Asal Usul Kisah Si Kancil

Kisah si Kancil Menghitung Buaya

Hari itu sang Kancil sedang ingin makan buah rambutan. Namun sayang seribu sayang pohonnya berada di seberang sungai.

Bukan Kancil tak bisa berenang, tapi ada sekelompok Buaya yang bersarang di lubuk sungai. Tiap binatang yang lewat atau minum di tepian sungai pasti disambar oleh mereka.

Beramai – ramai para buaya dipimpin Pak buaya menjadikan binatang yang sedang tak beruntung sebagai santapan mereka. Betapa banyaknya para buaya hingga kalau mereka berbaris, para buaya itu bisa menjadi jembatan ke seberang.

Aha, kancil jadi punya akal.

Kancil memberitahu pak Buaya dan kawan – kawan bahwa Raja Rimba hendak mengadakan kenduri. Para Buaya diundang ke perjamuan itu.

Syaratnya, Raja Rimba perlu tahu jumlah buaya di sungai, agar dapat menyiapkan hidangan yang pas jumlahnya. Raja Rimba tak ingin ada undangan yang kurang makan dalam kenduri-nya.

Buaya sedikit curiga dengan perkataan Kancil, siapa yang tak tahu kancil? Si cerdik licik seluruh rimba raya. Tapi janji – janji manis akan mendapat makanan enak juga menggiurkan.

Para buaya berembuk sebentar lalu mereka sepakat. Apalah susahnya membiarkan Kancil membilang jumlah mereka. Kalau Kancil berbohong, ngam! Para buaya akan menjadikannya bulan – bulanan.

Mereka pun berbaris. Lalu Kancil mulai melompat ke punggung Pak Buaya.

“Satu, dua, tiga, empat, melompat” kata Kancil mulai menghitung. Dia mengulangi lagi ke barisan seterusnya. Satu, dua, tiga, empat, melompat. Satu, dua, tiga, empat, melompat dan akhirnya sang Kancil sampai ke seberang.

Dengan senyum lebar kancil berterima-kasih kepada Buaya yang telah menolongnya menyeberang untuk makan rambutan. Pak Buaya menyadari kebodohannya. Tapi apalah daya, ibarat nasi telah menjadi bubur. Kancil memang binatang yang cerdik licik sehutan rimba.

Tunggulah pembalasanku, janji pak Buaya. Kancil tak lagi mendengar, dia sudah asyik memamah rambutan masak yang banyak berguguran.

***

Asal Kisah Si Kancil

Ada yang tahu kisah di atas? Kalau besar di Indonesia atau bahkan sealam melayu (maksudnya Indonesia, Malaysia, Brunei dan Singapura atau yang disebut nusantara) tentu tak asing lagi dengan kisah kecerdikan sang Kancil.

Fabel Kancil menyebar se-nusantara sebagai kisah pengantar tidur yang tak lekang di makan zaman.

Kisah – kisah sang Kancil diperkirakan berasal dari budaya yang disebut sebagai Jataka. Jataka merupakan dongeng binatang yang berasal dari agama Budha.

Adalah Sir Richard Windsted dalam A History of Classical Malay Literature, menjelaskan bahwa pada abad II SM pada suatu stupa di Barhut Allahabad India terukir adegan-adegan dongeng binatang, inilah yang disebut orang sebagai Jataka.

Dongeng binatang ini, kemungkinan menyebar ke luar India; ke arah barat menuju Afrika serta ke timur menuju Indonesia dan Malaysia bagian barat. Walau tentu saja, bisa jadi India hanya ‘mencatat’ sedang asalnya dari daerah Nusantara.

Dongeng si Kancil, tulis R.B. Dixon dalam The Mythology of All Races: Oceanic, terdapat di daerah-daerah di Indonesia yang mendapat pengaruh kuat Hinduisme dan erat hubungannya dengan kerajaan Jawa Hindu dari abad ke-7 sampai abad ke-13.

Kancil tukang si Pengecoh

Dalam buku karangannya R.B. Dixon menyebut Si Kancil sebagai the trickster. Hal senada diungkap oleh James Danandjaja dalam Folklor Indonesia, beliau menulis:

“Tokoh binatang cerdik licik ini di dalam ilmu folklor (cerita rakyat) dan antropologi disebut dengan istilah the trickster atau tokoh penipu.”

Membukukan Kisah si Kancil

Walau telah lama menjadi cerita yang menyebar serta dituturkan secara lisan, kisah si Kancil baru dibukukan pada abad ke-19.

“Semua versi cerita kancil berbahasa Jawa, ceritanya dapat dilihat sebagai suatu siklus yang menceritakan seluruh riwayat hidup sang Kancil sejak lahir sampai meninggalnya,” tulis T.E. Behrend dan Titik Pudjiastuti dalam Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara Jilid 3-A sebagaimana yang dikutip Hendri F. Isnaeni dalam historia.

Hendri F. Isnaeni menuliskan bahwa Versi cerita Kancil tertua adalah Serat Kancil Amongsastra karangan Kyai Rangga Amongsastra yang dikarang pada 1822. Atas usaha Dr W. Palmer van den Broek, serat tersebut dicetak pada 1878.

Buku induk lain dongeng si Kancil diterbitkan G.C.T. van Dorp di Semarang pada 1871. Cerita Kancil ini lebih dikenal dengan Serat Kancil van Dorp karena tak diketahui penulisnya

Si Kancil, Manusia Nusantara?

Menurut James Danandjaja, dari semua peneliti tentang dongeng Kancil, yang menarik adalah karya Philip Frick McKean, The Mouse-deer (Kantjil) in Malayo-Indonesia Folklore: Alternative Analyses and the Significance of a Trickster Figure in South-East Asia.

McKean menyimpulkan bahwa ideal folk (cerita rakyat) Melayu-Nusantara adalah selalu mendambakan keadaan keselarasan.

Dari isi dongeng-dongeng si Kancil dapat diambil kesimpulan, bahwa Kancil mewakili tipe ideal Melayu-Indonesia sebagai lambang kecerdikan yang tenang dalam menghadapi kesukaran. Selalu dapat dengan cepat memecahkan masalah rumit tanpa ribut-ribut, dan tanpa banyak emosi. Tentu hal ini masih sebatas perkiraan para ahli.

Di Tanah Kayong, Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara, Kancil mempunyai banyak kisah yang unik dan belum tentu dimiliki oleh daerah lainnya, seperti kisah Pelandok dan Tungau. Tentu saja ini menjadi kekayaan daerah kita. 

#cerita rakyat #kayong #ketapang #dongeng #melayu

majalah lentera

Majalah Lentera Ketapang merupakan media Forum Penulis Kehidupan. Pemimpin Redaksi: Sabiis, Anggota: Suparman (Mien S A Majid) dan Agus Kurniawan

Mungkin Anda juga menyukai

Berikan Pendapat anda

%d blogger menyukai ini: