Serial Tips Tak Berguna Belajar Nulis #4: Menulis, Berbicara Lewat Tangan.

Masuk minggu kedua bulan februari 2014, Ustad Idris meminta saya untuk mendampingin KH. D. Zamawi Imron. Saya membaca karya beliau entah waktu di majalah Hidayatullah atau di Horison. Dan saya amat suka. Ulama, Sastrawan, Budayawan berkumpul di Kyai asal pulau Madura ini.

Walau belum banyak membaca karya beliau, tapi ada satu tulisan beliau yang saya baca, dan kisah itu saya ingat sampai sekarang. Bahkan tulisan Nenek  Penjual Bunga, adalah tulisan terkenal dari beliau yang saya tulis ulang dengan gaya sendiri.

Beliau lahir pada 1945. Ketika saya memesan kopi susu, beliau memesan Jus tomat. Tanpa gula, tanpa susu. Sudah bertongkat, namun tak hilang wibawa.

Beliau menceritakan film Mestakung. Film tentang siswa – siswa terbaik Indonesia yang akan mengikuti Olimpiade Fisika tingkat dunia. Beliau awalnya cuma mengantar cucu. Tapi karena sutradaranya tahu siapa beliau, jadilah “saya membintangi film itu” cerita beliau.

Mendampingi beliau, adalah kesempatan baik. Untuk mengamati dan mempelajari. Apa yang saya pelajari?

Banyak. Tapi tentu, untuk Kyai sekelas beliau, kewibawaan ruhiyah mengatasi apapun.

Ruh yang menjiwai diksi yang dia pilih dalam puisinya. Dalam tiap kata – katanya nan puitis dan enak didengar. Dengarlah:

kalau aku merantau lalu datang musim kemarau

sumur-sumur kering, daunan pun gugur bersama reranting

hanya mataair airmatamu ibu, yang tetap lancar mengalir

Itu puisi beliau pada 1966. Untaian kalimatnya sederhana, karena itu mengena dalam hati.

Saya sorogan sekilas dengan beliau. “Menulislah yang beda, ambil tempat yang baru” pesan beliau, sembari memegangi lengan saya.

Dalam forum, beliau mengajari selayaknya dosen sastra. Banyak hal teknis tentang sastra. Pengajaran beliau seperti air, mudah diserap dan mudah diaplikasikan.

Apa yang saya ingat adalah, beliau berbicara sebagaimana ia menulis, atau tulisannya seperti cara bicaranya. Tak banyak bunga – bunga kata, tapi rindang dedaunan kata beliau sudah cukup menyegarkan. Puisi yang beliau bacakan, tidak norak, tapi merasuk dalam hati.

Tentu ini karena pengalaman beliau yang ditempa waktu. Saya jadi teringat perkataan Ernest Hemingway “… ada kata – kata yang lebih simpel, lebih baik, dan lebih lazim; itulah yang kugunakan”

Untuk secepat mungkin mampu menuliskan ide. Bayangkanlah komentar kita pada sesuatu. Lalu tuliskan seakan kita membicarakannya.

Lantas, ‘Dengar’ apa yang telah kita tuliskan. Hayati rima dan gelombangnya. Dan seperti halnya musik, tulisan biasanya akan lebih mudah diterima bila kata – katanya sederhana, positif dan lazim didengar orang lain.

Terjebak ingin terlihat hebat, akan menyulitkan diri sendiri.

Saran saya, sederhanakan tulisanmu. Bermainlah di diksi sederhana, namun mengena. Bermainlah di rima.

Semakin paham orang dengan kata – kata yang  kita tulis, makin besar kemungkinan tulisan kita akan berbekas dalam hati pembaca.

IBU (D. Zamawi Imron)

kalau aku merantau lalu datang musim kemarau

sumur-sumur kering, daunan pun gugur bersama reranting

hanya mataair airmatamu ibu, yang tetap lancar mengalir

bila aku merantau

sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku

di hati ada mayang siwalan memutihkan sari-sari kerinduan

lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar

ibu adalah gua pertapaanku

dan ibulah yang meletakkan aku di sini

saat bunga kembang menyemerbak bau sayang

ibu menunjuk ke langit, kemudian ke bumi

aku mengangguk meskipun kurang mengerti

bila kasihmu ibarat samudra

sempit lautan teduh

tempatku mandi, mencuci lumut pada diri

tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh

lokan-lokan, mutiara dan kembang laut semua bagiku

kalau ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan

namamu ibu, yang kan kusebut paling dahulu

lantaran aku tahu

engkau ibu dan aku anakmu

bila aku berlayar lalu datang angin sakal

Tuhan yang ibu tunjukkan telah kukenal

ibulah itu, bidadari yang berselendang bianglala

sesekali datang padaku

menyuruhku menulis langit biru

dengan sajakku

1966

Agus Kurniawan

Penulis pemula, Pembaca tingkat mahir, Pejalan Jauh dan Pendiri dnakurnia, sebuah usaha kreatif bersama Dewi Kurniaty. Tuan Rumah di Pawana.id

Mungkin Anda juga menyukai

Berikan Pendapat anda

%d blogger menyukai ini: