Sekilas tentang Masyarakat Dayak Pesaguan

Pak Martin Rantan, Bupati Ketapang, saat menutup Pekan Gawai Adat VII, 3 Agustus 2019 kemarin menekankan perlunya Kodifikasi Hukum Adat Dayak agar lestari dan tidak disalah gunakan.

Sumber Foto: Pontianakpost.co.id

Tentu saja hal tersebut penting, mengingat makin ke depan masyarakat kita akan semakin sering berinteraksi secara global. Tanpa meneguhkan pondasi, kita akan goyah.

Namun yang menarik dari sambutan Ketua Dewan Adat Dayak Ketapang itu adalah beliau menyebut berbagai macam Sub Suku Dayak yang ada di Ketapang. Termasuk Sub Suku Dayak (Sungai) Pesaguan.

Saya bertugas di KUA Kecamatan Tumbang Titi yang merupakan titik sentral persebaran kelompok Dayak Pesaguan. Mayoritas penduduk Tumbang Titi pun adalah Masyarakat Dayak Pesaguan. Dalam literatur, Dayak Pesaguan digolongkan pada Dayak Matahari Hidup (Timur Pawan).

18 Desa dari 25 Desa di Kecamatan Tumbang Titi, Mayoritas dihuni oleh mereka.

Secara tradisional, kelompok masyarakat di Kalimantan sering dikenali sesuai dengan nama Sungai. Sungai asal di mana mereka tinggal atau tempat mereka mencari makan dan sarana Transportasi.

Begitu pun juga Masyarakat Dayak Pesaguan. Kelompok masyarakat ini mayoritas bermukim di pinggir Sungai Pesaguan dan sebagian kecil dialiri anak Sungai Jalai (Jelai).

Berdasarkan nama sungai yang berfungsi sebagai sarana transportasi utama untuk berkomunikasi dengan masyarakat lainnya inilah, mereka umumnya dikenal atau menyebut identitas kelompoknya sebagai Dayak Pesaguan atau orang Pesaguan.

Namun saat ini penyebutan Orang Pesaguan juga dipergunakan oleh penduduk Desa Pesaguan Kanan dan Kiri yang bersuku Melayu di daerah Muara Sungai. Karena itu kemudian mereka lebih umum dikenali sebagai orang dayak pesaguan.

Wilayah

Berdasarkan aliran Sungai, JPJ Barth membedakan antara Pesaguan Hulu dan Pesaguan Hilir. Dengan batasan wilayah Perdikan Tumbang Titi (Barth, 1896:).

Sedangkan kelompok masyarakat yang huniannya agak jauh dari Sungai Pesaguan dibedakan atas Pesaguan Kiri dan Pesaguan Kanan (Aloy Surjani, 2008).

Sehubungan dengan pembagian wilayah yang didasarkan atas letak geografis tersebut yang juga dilatarbelakangi sejarah penyebaran, ada beberapa kelompok Masyarakat yang  membentuk kampung;

1) Batu Tajam


Orang Kampung Batu Tajam merupakan penyebaran dari hulu
Lemandau, tepatnya di Kampung Ketingan, Kalimantan Tengah.
(Aloy Surjani,2008)

Tempat tinggal orang Dayak Pesaguan sub Batu Tajam sebagian
besar terletak di pinggir Sungai Pesaguan, seperti : Pembangunan,
Temposohan, Kembahang, dan Pengancing. Sedangkan Batu Tajam 1 dan Batu Tajam 2 terletak di darat Desa Tumbang Titi.

Kedua desa itu berada di jalur provinsi yang menghubungkan
Ibukota Kabupaten Ketapang dengan Kecamatan Tumbang Titi.

2) Kekura


Kekura merupakan kampung dayak yang menjadi perbatasan
antara Kecamatan Tumbang Titi dengan Kecamatan Jelai Hulu.
Mereka berasal dari Dayak Jelai di hulu Tumbang Titi.

3) Kengkubang


Kampung Kengkubang Jelaian meliputi Kampung Titi Buluh, Jelayan, Natai Panjang

4) Marau


Orang Marau saat ini bermukim dan membentuk kampung Marau Sinar Bulan, Sebau’, Pengatapan, Sungai Melayu dan Senyiruhan.

5) Pesaguan Hulu


Kampung – kampung tempat bermukim Orang Pesaguan Hulu diantaranya: Tanjung Maloy, Keliampu, Serengkah Kiri, Serengkah Kanan, Tanjung Beringin dan Batu Bulan.

Kampung Serengkah merupakan kampung tertua di wilayah sungai pesaguan hulu, penduduknya berasal dari Suku Dayak Ketungau yang saat
itu masih bermukim di wilayah Sintang.

6) Pesaguan Kanan

Bahasa Orang Pesaguan Kanan menempati posisi sebagai Lingua
Franca dalam pergaulan sehari – hari antara orang Dayak. Selain bahasa Melayu Tumbang Titi. Mereka saat ini bermukim di tiga desa: Mahawa, Punuk dan Rengas.

Sumber:

Alloy, Surjani. Albertus. Istiyani, Pancer,chatarina. (2008). Mozaik Dayak
Keberagaman Subsuku dan Bahasa Dayak di Kalimantan Barat. Pontianak:
Institut Dayakologi


Astianti Andika Saputri, Ismunandar, Imma Fretisari (2015) Analisis Fungsi Tari
Adat Dayak Pesaguan Dalam Upacara Pernikahan Di Kabupaten Ketapang.
Makalah


J. P. J. Barth, Overzicht der afdeeling Soekadana, 1897

Agus Kurniawan

Penulis pemula, Pembaca tingkat mahir, Pejalan Jauh dan Pendiri dnakurnia, sebuah usaha kreatif bersama Dewi Kurniaty. Tuan Rumah di Pawana.id

Mungkin Anda juga menyukai

Berikan Pendapat anda

%d blogger menyukai ini: