Sungai Pawan Ketapang, Sebuah Dongeng Asal Usul

Dongeng Asal Mula Sungai Pawan

Sungai Pawan adalah Sungai yang membelah Kota Ketapang di Pesisir Barat Pulau Kalimantan, menuju Selatan. Mata airnya berada di perbukitan Mendung Berangin (Bukit Beringin Laur saat ini).

Ini sesuai dengan kata Pawana, dalam bahasa Melayu lama, Pawana bermakna Angin. Alirannya menusuk ke jantung pulau nomor tiga terbesar di dunia ini hampir tepat di tengah.

Asal Usul Sungai Pawan Ketapang masuk dalam cerita rakyat, juga bisa dikatakan dongeng. Alias kisah fiksi belaka. Dikisahkan dari orang tua ke anaknya. Namun bukan berarti tidak memiliki akar sejarah.

Kisah ini tercatat dengan baik oleh Bangsa Belanda, dalam buku yang ditulis pada 1825 oleh Mayor Muller. Yang penulisnya yakini terjadi di zaman Panembahan Ayer Mala. Dan berhubungan erat dengan pertambangan timah di Sungai Pawan Ketapang.

Asal Mula Kedondong Raksasa

Adalah Seorang raja Tanjung Pura bernama Prabu Jaya. Dia teramat senang menjala ikan. Sungai – sungai di seluruh Tanjung Pura sudah dia datangi. Sekalian dia berdagang dengan beberapa suku yang diam di hulu Negeri Tanjung Pura.

Suatu kali, Prabu Jaya ingin mencoba menebarkan jala di Sungai yang letaknya tak jauh dari istana. Namun sayang tiap kali ia menebarkan jala, yang didapatnya lagi – lagi hanyalah buah kedondong. Sungguh pohon Kedondong di sekitar sungai itu. Wajar jika orang menyebutnya Sungai kedondong.

Saat Prabu Jaya habis kesabaran, ia mengambil sebiji buah kedondong kemudian membuangnya kedaratan sembari mengutuk:

“Jadilah engkau pohon raksasa yang melindungi seluruh tanah ini”.

Kutuk itupun terlaksana. Biji yang dibuang oleh Prabu Jaya tumbuh menjadi tunas, lantas menjadi pohon yang semakin hari semakin besar hingga melingkupi seluruh tanah Negeri Kedondong. Demikian sang Prabu memberikan nama kepada tanah itu.

Negeri Kedondong

Negeri Kedondong dia wariskan kepada salah seorang keturunannya. Sementara dia membangun Pelabuhan baru di Sukadana. Saat Prabu Jaya meninggal, Bandar raya Tanjung Pura telah beralih ke Sukadana. Raja Ba-Parung anak Prabu Jaya membangunnya dengan megah.

Sementara Kotta Lama atau Benuah Lambat tempat Tanjung Pura berdiri ditinggalkan, dan penduduk beralih ke Negeri Kedondong.

Nama mirip dengan Kedondong juga ditemukan dalam daftar Negeri bawahan Tanjung Pura dalam kitab Negara Kretagama; Kadandangan.

Namun kata para ahli, Kadandangan adalah ejaan lama untuk Kendawangan. Padahal Kendawangan, ditulis di peta lama sebagai Hogtland (tanah tinggi/koto?) Kandavangan, dan tidak disebut Kadandangan.

Kadandangan lebih mirip Dondongan atau Kedondong. Kedondong terus dicatatkan keberadaannya hingga abad ke 17.

Terlihat di peta Eropa berikut ini, tertulis nama lokasi Dondongan (Kedondong) yang terletak di sebelah kiri mudik lokasi yang dengan mudah kita kenali sebagai Sungai Pawan yang belum memiliki pulau (delta) di tengahnya. Dondongan dan Candawangan ditulis bersamaan.

IMG-20190317-WA0025

Pohon Kedondong Raksasa

Seiring berjalannya waktu, ranting dan daun Pohon Kedondong raksasa itu sempurna menutupi tanah dari cahaya Matahari. Hingga membuat penduduk negeri Kedondong menderita. Mereka lalu berpindah ke Negeri lain.

Ada yang membawa padi ke pulau paling jauh yang mereka bisa capai. Dan menjemurnya di sana. Saking banyaknya tikar yang digunakan untuk menjemur padi, jadilah nama pulau itu Pulau Padang Tikar.

Ada juga yang mencoba menebang Pohon Kedondong Raksasa. Namun usaha mereka sia – sia. Pohon itu tetap tegak seperti sedia kala. Mereka ketakutan, karena dalam mimpinya, mereka dikutuk oleh Roh Penguasa Kedondong Raksasa. Dikutuk tujuh turunan mati bangkit.

Mereka yang merasa dikutuk itu lalu pindah jauh sekali ke pulau Permainan di laut jawa atau pulau Boyan (Bawean). Dari sana mereka pindah lagi ke Serawak dan beranak pinak di sana. Mereka dikenal sebagai Puak Boyan Kayong.

Panembahan Ayer Mala

Yang terbanyak dari Penduduk Negeri Kedondong pergi menyeberang ke negeri Sukadana. Semua orang merasa takut untuk tinggal di bawah naungan Pohon Kedondong raksasa.

Negeri Kedondong menjadi kosong. Bahkan Sang Dewa, Raja Negeri Kedondong-pun terpaksa ikut mengungsi ke Sukadana. Sukadana pada masa itu diperintah oleh seorang Raja besar keponakan Sang Dewa bernama Panembahan Ayer Mala.

Nama Panembahan Ayer Mala bermakna Raja Negeri Yang Berlimpah (Ayer/Air) dengan Intan (Mala). Raja atas negeri Sukadana dan taklukannya, cucu buyut dari Prabu Jaya. Panembahan Ayer Mala berkehendak menebang Pohon Kedondong Raksasa agar penduduk menjadi tenteram kembali dan dapat berladang di negeri Kedondong lagi.

Ia pun mengadakan sayembara,

“barang siapa yang dapat menebang Pohon Kedondong Raksasa itu, Aku menjanjikan padanya akan mendapat harta yang berlimpah.” Demikan Sabda Sang Ratu Ayer Mala.

Banyaklah orang mencoba, namun jangankan mencapai sang pohon Raksasa. Menghadapi pohon – pohon kedondong yang menutupi sungai saja mereka sudah kelelahan.

Ada yang mencapai dan sempat menebang pohon Raksasa itu. Namun, keesokan harinya sang Pohon Kedondong Raksasa dan pohon – pohon di sekitarnya telah tegak berdiri kembali.

Adapun Ayer Mala, demi melihat tak ada satupun yang sanggup menebang pohon Kedondong Raksasa itu akhirnya ia menghentikan sayembara itu.

Sang Dewa, Raja Negeri Kedondong mendatangi Sang Ratu Ayer Mala di istananya. Dia mengatakan bahwa perbuatan Sang Ratu pada negeri Kedondong telah menyebabkan para pohon – pohon tua marah.

“Lalu apa yang bisa Sahaya lakukan, paman?” Ayer Mala hampir berputus asa.

“Pergilah engkau ke sana, jangan perintahkan siapa – siapa lagi. Engkau adalah keturunan Sang Prabu Jaya. Tentulah mudah bagimu untuk menebang apa yang kakekmu tanam” nasehat Sang Dewa.

“Bukankah Paman adalah juga keturunan Prabu Jaya?” tanya Ayer Mala.

“Paman hanya melanjutkan tahta di bekas Negeri Tanjung Pura. Sedang Ananda Panembahan adalah penerus yang sebenarnya” Jawab lelaki berpakaian serba putih, dengan rambut memutih bergelung ke atas seperti para pertapa.

“Adalagi syaratnya, Pergilah tanpa membawa senjata apapun, agar para pohon tua tidak dapat melihat niatmu” kata Sang Dewa.

“Jadi, bagaimana mungkin Sahaya menebang Pohon Raksasa itu? Sedang di tangan sahaya tak ada senjata?” Ayer Mala keheranan mendengar petunjuk itu.

“Ketahuilah ananda, bahwa di dalam sungai Kedondong itu terdapat sumber timah.” Ayer Mala mendengarkan dengan seksama. Dia memang sudah mendengar kalau Negeri Kedondong sering menjual Besi Ikat ke Kapal Cina yang singgah. Tapi baru sekarang tahu kebenarannya.

“Kami bisa menemukan timah dengan mudah. Semudah mengais rumput dengan kaki. Ambil dan buat menjadi kapak beliung. Ikat dengan batang padi” Jelas sang Dewa.

“Baiklah, Sahaya akan perintahkan para panglima untuk menyiapkan prajurit” Angguk Ayer Mala.

“Pergilah sendiri. Jangan bawa Prajurit selain awak kapalmu. Bawalah juga tujuh wanita hamil pertama yang sedang berat perutnya. Para pohon tua akan menyingkir dari jalanmu. Mereka tak akan menyakiti perempuan yang sedang mengandung” nasehat Sang Dewa.

Ayer Mala menebang Kedondong Raksasa

Ayer Mala-pun pergi ke negeri Kedondong dengan sebuah perahu yang berisi tujuh wanita hamil. Benar saja, sesampai di sungai Kedondong, pepohonan menyingkir dengan sendirinya.

Ayer Mala pun segera mendapati timah yang bersebaran di tanah ladang. Padi – padi juga telah tumbuh dengan liar tanpa ada yang memanen.

Ayer Mala menyiapkan unggun untuk membakar timah yang dipungutnya. Panembahan membentuk timah menjadi mata beliung sederhana. Lantas ia mengambil rumpun padi sebagai pengikatnya.

Setelah siap, lelaki gagah Raja Sukadana itupun mendekati pohon kedondong raksasa dan berbisik pada pohon itu:

“Apabila tangan kakek buyutku yang menanammu, maka tumbanglah oleh tebangan tangan cucunya ini” Kapak beliung timah berikat batang padi pun diayun.

Di sebelah Ayer Mala berdiri tujuh wanita hamil bungas. Mereka melindungi Sang Raja dari serangan pohon kedondong lain.

Pada tebangan pertama, dahan pohon itu terkoyak besar. Begitu seterusnya hingga saat matahari condong hendak mati di barat, sekaratlah pohon itu hendak tumbang.

Ayer Mala memutuskan untuk istirahat menunggu pagi besok untuk melanjutkan.

Kutuk Kedondong Raksasa, dan Asal Usul Sungai Pawan Ketapang

Di malam hari, saat semua rombongan Ayer Mala tertidur pulas. Sang Panembahan dikejutkan oleh mimpinya. Dalam mimpi Panembahan, para Peri dan Mambang dari pohon Kedondong Raksasa berkata padanya:

“Apa yang terjadi pada kami sudah kehendak Duata. Namun kami tetap akan meninggalkan kutuk kepada tanah ini, tujuh keturunan akan datang, mereka tak akan hidup nyaman di tanah Kedondong ini.”

Saat cahaya matahari menerangi langit timur. Baru Ayer Mala menyadari kalau Pohon Kedondong Raksasa sudah tak lagi ada wujudnya.

Sungai Kedondong yang sempit telah berganti Sungai besar dengan sebuah pulau di tengahnya. Pulau itu jelmaan kerimbunan pohon kedondong raksasa.

Karena adanya Pulau di tengah, sungai menjadi bercabang dua menuju laut. Salah satu cabangnya adalah cabang Sungai Lama yang disebut bangsa Pelaut sebagai Sungai Kandang Kerbau.

Di zaman Prabu Jaya, sungai itu lebar sekali hingga kapal dagang mudah berlabuh di kota raja. Namun sekarang bekas ibu kota Tanjung Pura itu sudah tak nampak lagi dari laut.

Cabang lain yang lebih pendek kelak akan disebut Sungai Ketapang. Muaranya di Tanjung Berie. Tanjung Ria Celincing saat ini.

Orang – orang yang mengungsi segera pulang ke negerinya. Sang Dewa banyak berterima kasih kepada Ayer Mala. Dia berkata Negeri Kedondong berada di kaki Negeri Sukadana.

Ayer Mala meminta agar Timah yang menjadi hasil alam negeri kedondong, dijual kepada Sukadana.

Ayer Mala membayar tinggi untuk Besi Ikat yang dihasilkan oleh Negeri Kedondong. Orang – orang pun berlomba mencari timah. Akibatnya orang mulai lupa diri.

Dahulu, kala Kedondong Raksasa menaungi. Orang – orang mengeluh tak bisa berladang dan menjemur padi.

Namun sekarang mereka lebih senang menambang timah yang berserakan di atas tanah, dari pada membuka ladang. Ladang – ladangpun menjadi terbengkalai.

Yang lebih parah, ketika di atas tanah tak didapati timah, mereka mengeruknya sampai ke dalam. Tanah hilang kesuburannya. Daratan yang tadinya kering, berubah menjadi berlumpur.

Menyusul sungai menjadi terjangkit limbah pertambangan. Air Sungai berubah menjadi merah pekat. Ladang – ladang pertanian telah rusak. Masyarakat kembali menderita. Padahal Pohon Kedondong telah berhasil mereka singkirkan.

Kutuk itu terlaksana, negeri Kedondong mulai mundur dari perbincangan dunia seiring habisnya timah di negeri mereka.

Nama Negeri Kedondong bertahan hingga abad berikutnya, hingga kemudian hilang dari peta pelayaran bangsa Eropa dan berganti menjadi Ketapang. Di awal abad 18.

Penutup; Sungai Pawan, riwayat singkat

Sungai Pawan Ketapang dahulu dikenal sebagai Sungai Kedondong, lalu berubah menjadi Sungai Matan Baru di abad 18 dan 19. Nama Kedondong sempat disebut dengan nama lain yang seiras diakhir pemerintahan Sultan Jamaluddin. Letaknya bertetangga dengan Kampung Ketapang.

Demikianlah Asal Mula Sungai Pawan Ketapang dari Robohnya Pohon Kedondong Raksasa. Hikayat ini ditulis berdasar sebuah catatan tahun 1822 dan dari sumber – sumber lainnya.

Agus Kurniawan

Penulis pemula, Pembaca tingkat mahir, Pejalan Jauh dan Pendiri dnakurnia, sebuah usaha kreatif bersama Dewi Kurniaty. Tuan Rumah di Pawana.id

Mungkin Anda juga menyukai

Berikan Pendapat anda

%d blogger menyukai ini: