Asal Usul dan Cerita Padang Dua Belas Ketapang

Secara keseluruhan, Wilayah Ketapang atau dulu senang juga disebut Tanah Kayong dipercaya sebagai tanah yang memiliki kekuatan magis.
Mungkin puncanya ada pada legenda Pohon Kedondong yang membawa kutuk kepada tanah Ketapang dan orang – orang dari tanah Kayong dipercaya mati bisa bangkit alias menjadi hantu.
Kepercayaan ini masih bisa kita temui di Serawak dengan urban legendnya Boyan Kayong. Karena citra magis ini, dulu menurut cerita orang tua, orang Ketapang agak digeruni bila datang ke kota propinsi, tapi sekali lagi itu dulu.
Dari banyaknya lokasi yang dikatakan kampung makluk halus, Padang Dua Belas adalah Ibu kotanya. Cerita – cerita dari perhuluan maupun kota Ketapang tentang orang yang disesat atau dibawa orang kebenaran atau menikah dengan orang kebenaran tidak bisa tidak menyebut Padang Dua Belas sebagai ibu kota negeri bunian di Ketapang.
Saya punya tiga koleksi cerita gaib orang yang menikah dengan orang bunian, kesemuanya mengaku pernah ke Padang Dua Belas. Salah satunya bisa dibaca disini https://tinyurl.com/karmanusiamacan
Banyak cerita masyarakat yang beredar, baik sekedar berita mulut ke mulut maupun yang dengan mudah kita dapati dari artikel di internet. Saya jarang tertarik dengan cerita demikian, selain karena peliknya mencari sumber yang valid juga karena keterbatasan pengetahuan saya.
Namun atas permintaan seorang peneliti, saya akhirnya secara ringkas menulis apa yang bisa saya carikan untuk beliau cerita – cerita masyarakat tentang penghuni Padang Dua Belas ini.
Padang Dua Belas sekira 60 km arah selatan kota Ketapang. Pasir halus berwarna putih membentang saujana mata memandang, dua belas kilometer panjang dan dua belas kilometer pula lebarnya, itulah asal nama tempat yang dipercaya sebagai Pusat kerajaan orang bunian atau orang kebenaran di Ketapang itu.
Berlokasi di antara dua desa, Sungai Nanjung dan Pagar Mentimun di Kecamatan Matan Hilir Selatan, di hadapannya terbentang pantai Tanjung Batu.
Padang Dua Belas berada dalam satu rangkaian hutan yang memiliki landasan pasir putih berturut – turut; Bagan Lari, Bagan Api, Bagan Kelapa dan Bagan Asam yang terletak di area Padang Dua Belas terletak dekat atau hampir berada di tepian Sungai Tapah anak Sungai Pesaguan. Saat ini sebagian wilayah Padang Dua Belas tampaknya masuk dalam wilayah pengembangan industri sebagaimana berita ini
Seorang penduduk Sungai Nanjung yang saya temui menceritakan tempat terpenting dari Padang Dua Belas adalah sebuah kolam alami yang disebut Tong Air di daerah Bagan Asam.
Di tempat ini menurutnya yang pernah kerja menebang kayu bila tengah hari Jum’at sering terdengar suara Azan, padahal tak ada masjid di hutan. Kolam alami ini masih menurut sumber yang saya temui tak pernah kering walau kemarau panjang.
Baru – baru ini beliau menemani seorang Ustad di Ketapang untuk bermalam di lokas Tong Air ini, bertiga saja dengan dirinya dan seorang murid sang Ustad. Tak terjadi apa – apa, hanya terdengar suara keramaian saja dan anak – anak, kata sumber saya.
Beberapa tahun yang lalu, terbit kehebohan dari kayu nisan keluar darah atau sebagian yang lain keluar minyak wangi, lokasinya tak jauh dari Padang Dua Belas. Orang yang nisannya dihebohkan itu semasa hidupnya dianggap kurang waras, namun senantiasa berdakwah hingga meninggal. Bagi sebagian orang, almarhum dianggap “Wali”.
Menurut cerita yang beredar beliau pernah menikah dengan orang kebenaran dari Padang Dua Belas dan mempunyai anak di sana. Saya tak ingin menyebut nama beliau, karena menghormati almarhum dan keluarganya, tapi saya yakin orang – orang di Pesaguan bahkan Ketapang paham siapa yang saya bicarakan.
Bagi orang yang berhati lurus, masih menurut sumber, kadang – kadang bila melewati jalan yang melintasi Padang Dua Belas sering melihat buah Labu Kundor menyeberang, bila beruntung mendapatinya akan mendapatkan tuah.
Demikian pula orang – orang sekitar yang memiliki toko, bila ada orang tak dikenal atau orang tua belanja uangnya tak cukup, seringkali akan diberikan sebagai sedekah saja, karena bisa saja yang belanja itu orang kebenaran.
Ada cerita yang beredar di masyarakat, ada seorang tuan toko yang baik hati pada seorang yang belanja di warungnya, hingga sebagai imbal kebaikannya, orang itu yang ternyata orang Padang Dua Belas memberikan barang bertuah hingga memperoleh hidup yang nyaman. Orang yang diceritakan sumber saya itu dulu memiliki toko yang besar, namun tak bisa saya konfirmasi karena sudah meninggal.
Menurut orang yang ‘pernah’ masuk atau terpandang ke kota Padang Dua Belas, di sana banyak sekali rumah tinggi dan gedung – gedung mewah. Ada pusat perbelanjaan pula, jalan – jalan besar dan mulus. Kehidupannya aman damai, sedang penduduknya terdiri dari berbagai macam bangsa mambang, peri dan bunian serta jadi – jadian.
Apakah cerita tentang Padang Dua Belas itu benar? Saya harus mengatakan bahwa ‘kebenaran’ bukan bagian yang terpenting dari cerita – cerita tentang ‘orang kebenaran’.
Cerita – cerita yang saya sajikan di atas tidak ada yang berasal dari zaman – zaman di atas Panembahan Gusti Muhammad Saunan. Jadi bisa dikatakan sebagai cerita baru setelah Padang itu diceritakan sering menjadi tempat GM Saunan menyepi, sumur Saunan sebagai cagar budaya masih bisa dilihat di dekat dermaga luar Sungai Nanjung sebelum masuk wilayah Padang Dua Belas.
Sebagai orang yang tak diberi ‘kelebihan’ pemandangan, saya hanya sampai sebatas meyakini saja keberadaan makhluk yang terhijab dari panca indera saya sebagai bagian dari keimanan.
For an Active Lifestyle

agus kurniawan

Penulis Kampung, Penyuka Sejarah, Pejalan Jauh dan Penghulu Nikah

Mungkin Anda juga menyukai

1 Respon

  1. majalah lentera berkata:

    Bagus

Berikan Pendapat anda

%d blogger menyukai ini: